By: Hasnul Insani Djohar (HID)
Awalnya Rena tersenyum, saat Roni bilang; ‘Aku akan pergi jauh urusan bisnis.’ Hatinya berbunga-bunga membayangkan hari kemerdekaannya segera tiba. Tak ada lagi yang memerintah. Yang ada hanya dia sendiri, bebas merdeka.
Awalnya Rena bertepuk tangan, saat Roni bilang; ‘Aku akan pergi lama mewakili perusahaanku.’ Jantungnya berirama cepat membayangkan hari-harinya yang akan bebas tanpa hambatan. Tak ada lagi yang melarang-larang. Yang ada hanya dirinya, bebas melakukan apa saja yang dia suka.
Awalnya Rena tertawa lepas, saat Roni bilang; ‘Aku akan pergi ke luar negeri, jauh di sana.’ Perasaannya riang gembira. Tak ada lagi yang mengatur-ngatur tentang ini itu. Yang ada hanya dirinya, yang akan mengontrol dirinya sendiri, bukan orang lain.
Awalnya Rena bersorak riang gembira, saat Roni bilang; ‘Aku akan pergi keliling Eropa.’ Dadanya berdegup kencang, tak kuat menahan gejolak bahagia yang sebentar lagi dia rasakan. Tak ada lagi yang mengomentari perbuatannya dengan negatif. Yang ada hanya dirinya, yang rela menerima semua perbuatan positif dan negatif.
Awalnya Rena nyaris loncat kegirangan saat Roni bilang; “Aku akan pergi ke Belanda, Rusia, dan sekitarnya. Matanya berbinar-binar menyambut hari-hari kedepan yang cerah. Tak ada lagi yang mengomeli kesalahannya. Yang ada hanya dirinya, yang mau memaafkan dirinya sendiri.
Namun, setelah sehari kepergian Roni, senyumnya yang dulu sumringah, tak dapat lagi dia sunggingkan. Dulu, setiap Rena pulang, selalu ada teman untuk bercerita tentang kejadian yang dia alami. Namun kini; ‘Aku bercerita sama siapa?,’ lirihnya. Tak ada lagi tempat untuk berbagi kisah dan kasih. Yang ada hanya dirinya membisu seribu bahasa.
Setelah dua hari kepergian Roni, tepuk tangan yang tadinya keras, tak dapat lagi dia bunyikan. Dulu, setiap Rena pulang ada tempat untuk berebah. Menghilangkan penat-penat di sekujur badan. Namun kini; ‘Aku berebah ke siapa?, kemana?, dimana?,’ isaknya semakin keras. Tak ada lagi tempat yang nyaman untuk menyandarkan tulangnya. Yang ada hanya dirinya, duduk sendiri lunglai dan sandaran.
Setelah tiga hari kepergian Roni, tawanya yang dulu lebar, tak bisa lagi dia lepaskan. Dulu, ada teman yang bisa Rena ajak tertawa, ajak bercanda, walau sering dia sambut dengan kata ‘ga lucu’, yang padahal telah membuatnya tertawa. Namun kini; ‘Aku tertawa sama siapa?,’ bisiknya lirih. Tak ada lagi tempat untuk berbagi tawa dan canda. Yang ada hanya dirinya, diam terpaku tanpa ada cerita lucu.
Setelah empat hari kepergian Roni, sorakannya yang dulu lantang, tak bisa lagi dia ucapkan. Dulu, ada teman yang bisa Rena jadikan tempat berbagi masalah, hingga dia dapat menemukan solusi dari setiap masalah. Namun kini; ‘Aku mau sharing sama siapa?, tangisnya mulai menggema. Tak ada lagi tempat untuk berbagi sedih dan duka. Yang ada hanya dirinya, tercenung sendiri, terbentur dengan seribu satu masalah.
Setelah lima hari kepergian Roni, pekikkan yang dulu nyaring, tak bisa lagi dia kumandangkan. Dulu, ada teman yang selalu siap membantu Rena, hingga setiap hal kebutuhannya nyaris terpenuhi. Namun kini; ‘Aku minta bantuan sama siapa?, wajahnya mulai pucat. Tak ada lagi tempat untuk meminta pertolongan.
Setelah enam hari kepergian Roni, nyanyian yang dulu merdu, tak bisa lagi dia dendangkan. Dulu, selalu ada orang yang Rena tunggu-tunggu, hingga ada kesibukan untuk mempersiapkan segala sesuatu. Namun kini; ‘Aku menunggu siapa?, lututnya lunglai, tak kuasa menahan bebannya. Tak ada lagi tempat untuknya menggantungkan harapan dan penantian.
Setelah tujuh hari, delapan, sembilan, sepuluh, berpuluh-puluh hingga berbulan-bulan kepergian Roni, Rena tak tahu apa yang dia lakukan dan rasakan. Semuanya hilang, tak ada kesan dan pesan. Otaknya tak berfungsi, hatinya dingin, jantungnya tak berirama; badannya layu, tubuhnya kaku, lidahnya kelu, dan tatapannya kuyu. Dia tersadar, jika kebahagiaannya semu, jika Roni tak disisinya.
Mid July, 2011,
HID
No comments:
Post a Comment