Monday, May 23, 2011

KERINDUANKU


Betapa ingin aku memeluk tubuhmu yang agung.  Betapa rindu hatiku ingin bertemu.  Namun apa daya tanganku tak sampai.  Kau begitu agung, kau begitu tinggi, hingga aku tak sanggup menggapaimu, kakiku pun tak sanggup menjelajahimu.  Agung tubuhmu membuat betisku tak berdaya di ayunkan.  Namun kerinduanku padamu, mampu mengalahkan semua kelemahanku.  Aku harus kuat demi untuk melihat keagunganmu.  Aku harus melawan semua kerapuhanku hanya untuk melepaskan dahaga rinduku padamu. 

Betapa aku merindukan semilir nafasmu yang bertiup sepoi-sepoi.  Aku merindukan lekukan-lekukan tubuhmu yang kekar bagaikan batukarang.  Aku merindukan dingin kulitmu yang merasuki tulang rusukku terdalam.  Aku merindukan panas tubuhmu yang mampu melelehkan beku hatiku.  Aku merindukan matamu yang bagaikan telaga nirwana nan suci.  Aku merindukan kakimu yang berdiri kokoh sekuat baja.  Aku merindukan punggungmu yang lebar tempatku bersandar disetiap lelahku.  Aku merindukan dadamu tempat aku berebah dikala penatku.  Oh Agung, sungguh agung tubuhmu, hingga rinduku sudah tak mampu terbendung.

Betapa aku tak bisa terlelap walau sekejap.  Karena rinduku semakin hari semakin kuat.  Aku harus menghimpun semua tenagaku yang terdalam.  Hanya untuk melihat, mendengar, dan merasakan denyut jantungmu yang Agung.   Oh agung, tidakkah kau mendengar jeritan batinku siang dan malam memangilmu, memanggil namamu, hingga tubuhku pun menggigil terlalu rindu ingin memelukmu. 

Betapa ingin kaki-kakiku yang kecil menapaki tubuhmu yang tinggi.  Betapa ingin jari-jemariku mengurut tubuhmu yang kekar.  Betapa ingin hidungku mencium angin nafasmu yang segar.  Betapa ingin mataku menatap pemandanganmu yang indah. Betapa ingin telingaku mendengar bisikan cinta alammu yang damai.   Betapa inginku bertapa di atas tubuhmu yang perkasa, biar tenang jiwa dan raga.

Betapa aku tak kuat menahan rasa ini, jika kuingat saat berada dalam pelukanmu nan kuat.  Saat menikmati dingin tubuhmu yang nyaris membuatku beku.  Saat merasakan panas tubuhmu yang mampu membuatku mandi keringat.  Saat merasakan semilir anginmu yang mampu membuaiku sampai terlelap.  Saat menyaksikan indah alammu yang mampu membuatku terpesona. 

Betapa aku tak kuat menahan asa ini, jika kuingat masa menjelajahi alammu.  Masa mengeksplorasi seluk--beluk tubuhmu yang setiap bagian mempunyai keindahan tersendiri.  Masa mengelilingi pohon lebatmu yang ditemani suara krik-krik jangkrik.  Masa mengitari pepohonan tinggimu yang ditemani bunyi kicau burung.

Oh Semeru, deru, debu, Engkau Gunung nan agung.  Betapa agung jiwa dan namamu, hingga aku dan tak seorang pun kuasa memeluk tubuhmu yang tinggi dan agung.  Namun, kau mampu menggoreskan rasa rindu yang mendalam ke dada setiap insan yang pernah singgah di kaki, punggung, tubuh, atau puncakmu Semeru.

May 22, 2011
Insani Djohar (ID)

Kekecewaanku Padamu Azham

Kekecewaanku Padamu Azham
(By: Hasnul Djohar/HD)

Aku kecewa, aku merana, dan aku tidak percaya dengan kenyataan dan perkataanmu saat mengatakan tidak bisa padaku. Padahal aku sudah menggantungkan harapanku setinggi langit dan keyakinanku sedalam samudra padamu. Tetapi setelah aku menanti-nanti, mengharap-harap, dan akhirnya janji harimu datang, dengan entengnya kamu berkata: ‘Tidak, dan maaf tidak bisa hari ini, dan ditunda saja’. Sakit dan teramat sakit hatiku mendengar jawabanmu. Kamu tidak memikirkan betapa aku sudah menanti-nanti dan berharap banyak padamu. Tetapi kau tanpa dosa tidak menepati janjimu sendiri.

Namun, aku tidak bisa menyalahkanmu. Yang bisa aku salahkan adalah diriku sendiri. Yang selama ini terlalu percaya padamu, dan terlau bergantung padamu. Padahal kamu hanyalah manusia biasa yang sama dengan aku, tetapi mengapa aku berharap padamu, menanti dan meminta padamu? Toh kamu juga hanya insan biasa sama seperti aku.

Iya, itulah salah dan khilafku, yang mudah percaya dan berharap pada manusia-manusia sepertimu. Yang hanya bisa berbohong, bermulut manis, berparasit, yang hanya mau dan mampu menguntungkan dirimu sendiri ~ saja. Oh, jangan-jangan aku juga sepertimu, oh tidak, oh, jangan pernah!

Memang, selama ini aku salah dan keliru, yang lebih percaya dan mengandalkan kemampuanmu. Padahal kamu juga tidak bisa apa-apa, yang mungkin sama seperti aku. Aku seharusnya lebih berharap hanya pada-Mu ya Alloh. Mengapa aku tidak meminta kepadaMu saja selama ini? Mengapa aku harus cemas, khawatir jika sesuatu atau seseorang akan mengecewakanku? Padahal diri-Mu ya Alloh, Yang maha tahu dan Yang maha pengatur segala urusanku di dunia ini. Mengapa hamba kurang percaya dan kurang yakin dengan kekuatan-Mu selama ini. Malah sebaliknya, lebih berharap dan lebih meminta pada hamba-Mu yang eogis dan dhoif.

Padahal Engkaulah Yang maha segala-galanya, dan Engkaulah Zat yang tidak pernah membuat hamba kecewa. Karena dibalik kekecewaan satu pasti engkau ganti dengan kebahagiaan yang lain, yang mungkin saat ini belum hamba sadari. Ya Alloh kemana selama ini mata, telinga dan hati hamba? Sehingga hamba mau dan rela berputus asa, kecewa dan bahkan tersiksa dengan semua kekecewaan yang di buat oleh hamba-Mu yang lain dan bahkan oleh hamba sendiri.

Oh Robbi, hamba seharusnya tidak perlu tahu dan kenal dengan rasa kecewa, sakit, pilu, hampa, merana, dan sejenis penyakit jiwa yang hanya mampu nyaris membuat hamba-Mu 'gila'. Seharusnya hamba tidak menaruh harapan, dan bahkan penghambaan kepada makhluk-Mu yang dhoif lain. Hanya Engkaulah satu-satunya tempat hamba meminta dan bersujud. Bukan pada makhluk-Mu yang bernama insan manusia.
Astagfirullahal’aziim.

By,
Hasnul Djohar (HD)
May 15th 2011

Mungkinkah Azhami

Mungkinkah Azhami
(By: Hasnul Djohar/HD)

Mungkin aku lupa jika selama ini Alloh telah memberikan begitu banyak rezqi dan karunia-Nya kepadaku, sehingga aku begitu labil meratapi diri sendiri.
Mungkin aku terlalu fokus pada penderitaan, masalah, dan deritaku saja, sehingga aku telah melupakan nikmat Alloh yang lain.
Mungkin aku tidak menyadari jika dibalik masalah ini ada kebahagiaan, sehingga satu derita pasti akan diganti Alloh dengan sesuatu yang lebih indah dan barokah.
Mungkin aku terlalu banyak mengeluh selama ini, sehingga menutupi semua nikmat yang telah Alloh karuniakan padaku.
Mungkin aku terlalu asyik dengan nafsu dan duniaku, sehingga melupakan ibadah, kewajiban, dan kebutuhanku kepada-Nya.

Mungkin aku terlalu sombong dan angkuh selama ini, sehingga melupakan bahwa DIA diatas segala-galanya.
Mungkin aku terlalu egois dan asyik memikirkan diriku sendiri, sehingga lupa untuk peduli dengan sesama.
Mungkin aku terlalu manja dan bergantung pada orang-orang disekelilingku, sehingga aku kurang berusaha dan berjuang dengan upayaku sendiri.
Mungkin aku terlalu emosional dan gampang menuruti kata hati, sehingga aku lupa mendengarkan kata dan nasihat orang-orang yang padahal peduli padaku.
Mungkin aku pernah ber-Suudzhon kepada orang-orang dan juga kepada-Mu ya Alloh, sehingga Husnuzhonku tertutup dengan debu-debu keruh itu.

Mungkin aku kurang menggunakan hati dan rasaku, sehingga otak dan kepalaku sudah terlalu lelah berfikir, yang akhirnya aku tidak sanggup lagi berpikiran jernih.
Mungkin aku lupa cara beradab kepada orang tuaku, dan aku kadang tidak menuruti nasihatnya, atau bahkan tidak memperhatikan mereka (Nauzubillahi minzalik!), sehingga ridho Alloh yang terletak di telapak kaki ibuku tidak aku indahkan.
Mungkin aku punya khilaf dan salah pada orang-orang, teman-teman, saudara-saudara dan semua handai taulan, dan mungkin telah menyakiti mereka, sehingga yang aku ingat hanya kebaikan dan jasaku saja kepada mereka.
Mungkin orientasi hidupku selama ini untuk kebahagiaan diri sendiri, sehingga aku terpesona dengan indahnya dunia yang fana ini, dan lupa akan tujuan hidup yang hakiki; bermanfaat bagi banyak orang dan meraih Redhomu Robbi.

Mungkin aku terasuki hal-hal negatif yang dikatakan orang, sehingga kupingku tuli mendengarkan hal-hal yang positif yang padahal lebih berfaedah dan lebih banyak bertaburan di alam semesta ini.
Mungkin mataku, tanganku, kakiku, dan semua tubuhku telah melakukan hal-hal yang tidak direstui Alloh SWT, sampai aku bisa terbiasa dengan hal-hal yang bukan Islami, sehingga menjauhkan Rahmat-Mu Robbi.
Mungkin aku lupa arti ikhlas dan berniat lillahi ta’ala untuk setiap amal dan perbuatanku, sehingga aku masih berharap pujian dan sanjungan dari orang-orang.
Mungkin aku sangat jarang merenung, mengingat kesalahan-kesalahanku, jarang berkontemplasi dan men-tafakkuri diri sendiri, sampai kesalahan-kesalahan itu sudi menghampiriku dan menemaniku, sehingga aku tidak sadar diri akan pentingnya solat Tobat Nashuha.

Mungkin, dan mungkin tidak akan ada lagi kata-kata ‘Mungkin ‘ di dunia fana ini, karena yang ada hanya satu kata ‘Pasti,’ kepastian akan; Kasih Sayang, Rahmat dan RedhoMu ya Alloh yang Maha Besar kepadaku, sehingga aku akan terus bersyukur dan berjuang mengingat-Mu dan mendahulukan-Mu, karena Engkaulah satu-satunya tempat untuk berlindung, Engkaulah satu-satunya tempat untuk meminta, dan Engkaulah yang maha tahu apa yang terbaik, terindah dan yang paling sanggup hamba hadapi di dunia ini. Karena, Engkaulah tujuan hidup hamba yang paling utama, abadi dan hakiki. Mendapatkan tempat dan Redho-Mu lah yang paling mampu membuat hamba bahagia di dunia dan akhirat. Ya Alloh, karuniailah kepada hamba ‘Azham, Nikmat dan Rahmat Syukur dan Iman hanya kepada-Mu ya Robbi. Amin.

Jakarta, May 1, 2011

Diujung Usia ‘Azhamiku,
Hasnul Djohar (HD)


Azham Dan Azhami


Azham dan Azhami
(By: Insani Djohar/ID)

Begitu kuat rasa ini dan begitu kuat tantangan ini. Semua serba kuat, sampai aku tidak kuat sendiri. Hidup sendiri aku tidak bisa. Makan sendiri aku juga tidak sanggup. Apalagi jalan-jalan sendiri, aku lebih tidak mau! Jalan-jalan sendiri seperti orang gila saja. Semua ketidakkuatanku ini melumpuhkan pengukuhanku sebagai insan sejati!

Di saat aku tidak kuat hidup sendiri, dia datang menemani hari-hariku. Senyumnya menyejukkan hati, sapaanya meluluhkan jantungku, semua yang dia lakukan mampu mematahkan kekuatan dan kesombonganku. Dia, ya dia, yang telah menggoyahkan keangkuhan, dan kearogananku. Karena dia yang telah mampu membuat aku tersenyum. Dia yang telah mampu mengubah irama jantungku dari musik keroncong yang sudah ‘mengantuk’, menjadi musik rock metal yang hidup membara. Ya, hidupku lebih bersemangat dan berwarna semenjak kehadirannya. Yang dulu aku bangun tidur malas, makan sendiri juga malas, berangkat ke kantor malas-malasan, pokoknya setiap langkahku tidak lepas dari sepatu kemalasan. Tetapi sejak dia mulai mengusik mataku, mengusik rasaku, terutama mengusik rasa malasku, yang perlahan-lahan mampu mengganti sepatu kemalasanku itu menjadi sepatu kerajinan yang dahsyat! (Aku pun tidak tahu dia membeli sepatu itu dari mana). Yang pasti sejak aku memakai sepatu kerajinan ini, langkahku penuh irama yang selalu bernyanyi lagu riang gembira!Ya, sepatu baruku ini mampu mengembalikan gairahku yang dulu mungkin ditelan bumi. Mampu mengembalikan energiku yang dulu tersedot matahari.

Oh, rasa ini pasti yang dinamakan cinta! Ah, aku terlalu percaya diri dan terlalu cepat menyimpulkan kalau dia pun merasakan kegirangan atau cinta namanya, seperti yang aku rasa kan ini.Oh Cinta, aku tidak kuat harus memulai dari mana. Kamu datang hanya lewat seulas senyuman, seuntai sapaan, tidak lebih dan tidak kurang. Sehari datang sekali, tetapi itu rutin setiap hari! Kalau tidak pagi, ya siang, atau malam menjelang tidurku. Itu pun hanya sesaat, sekilas, dan tidak pernah melebihi hitungan jam. Tetapi efeknya itu yang melebih jam, hari, minggu, atau bulan sekali pun! Dan luar biasanya lagi, semua itu kuat dan mampu merobohkan semua rasa bosan, semua rasa bebal, dan semua rasa yang tidak punya rasa dalam jiwa dan ragaku ini.

Oh Sayang, dimanakah kau sekarang berada? Rinduku sudah mulai mengelitikku, malasku sudah mulai melirikku, bosanku sudah mulai mencolek-colekku. Energiku yang maha dahsyat sudah mulai meredup, tersapu angin siang dan angin malam yang mampu berhembus menusuk tulang rusukku. Sungguh besar rindu ini padamu!

Oh Robbi, oh maha sejati. Berilah hamba kekuatan untuk menentukan langkah dan menggunakan sepatu kokoh yang mampu menopang badan hamba jika sedang malas, jika sedang gundah, dan jika sedang lemah. Robbi, berilah hamba kekuatan-Mu yang maha agung agar mampu berdiri tegak, tanpa ada bayang-bayang dirinya.

Namun Robbi, hamba tetap memohon dan mengharap agar Engkau memberikan hamba kekuatan, kesempatan untuk menjemput dan mendapatkan belahan hati hamba yang hamba cintai semata-mata untuk mendapatkan jalan-Mu yang lurus. Dan begitu juga sebaliknya, dia pun mencintai hamba untuk mendapatkan Agama-Mu yang suci! Dan bukan karena harta, tahta, tampang, dunia, status, atau nafsu belaka. Tetapi semata-mata untuk mencapai dan mendapatkan Berkah dan Redho-Mu yang hakiki dan abadi! Amin.

By,
Insani Djohar (ID)
April 6, 2011.


Top of Form
Bottom of Form

Azham

Azham
(By: Insani Djohar / ID)

Ternyata ‘azham yang kuat ini harus aku hidupkan setiap hari. Sebelum bangun aku sudah berlari-lari kecil mengelilingi Ka'bah, melontar Jumrah, berlari-lari lagi mendaki dan menuruni bukit Safa Marwa, dan...(nanti saya baca lagi buku Safa Marwa).

Sungguh indah pemandangan di sana, walau panas, tapi hati sejuk dan tenang. Setiap hari yang ada hanya istigfar dan ibadah. Tidak ada kata dusta, cela, hina, marah, dan kata-kata yang mengundang luka di hati. Tidak ada! Yang ada hanya diriku dengan diri-Nya.

Sungguh Indah suasana di sana. Walau jauh dari orang-orang tercinta, namun hati tenteram, damai , dan bahagia. Tidak ada lagi rasa sakit hati, benci, sedih, dengki, dan rasa-rasa yang mengundang cela di hati. Tidak ada! Yang ada hanya diriku dengan diri-Nya.

Sungguh Indah perasaan di sana. Walau jauh dari rumah tercinta, namun senyum selalu ada, hati selalu berbunga-bunga, kepala selalu dingin. Tidak ada lagi senyum kecut, senyum penghinaan, senyum sindiran, senyum pelecehan, dan senyum-senyum pahit yang selama ini mungkin mengintai langkahku. Tidak ada! Yang ada hanya diriku dengan diri-Nya.

Sungguh Indah pengalaman di sana. Walau jauh dari aktivitas, namun jantung berpacu dengan irama yang senada, seimbang, sehat, dan sempurna (sekalian empat sehat lima sempurna!). Tidak ada lagi jantung yang berlari cepat, jantung yang deg-degan (apalagi saat menunggu-nunggu kabar dari Aminef! Egh!), dan jantung-jantung tidak normal yang mungkin selama ini menghantui langkahku. Tidak ada! Yang ada hanya diriku dengan diri-Nya.

Sungguh Indah penduduk di sana. Walau jauh dari sanak saudara, namun darah mengalir dengan tenang, lancar, dan terkendali. Tidak ada lagi darah yang tersumbat, darah yang tersendat-sendat, darah yang tersempit, atau darah kotor yang mungkin selama ini menemani nadiku. Tidak ada! Yang ada hanya diriku dengan diri-Nya.

Ooh Robbi, bawalah aku, jemputlah aku ke tanah-Mu yang suci itu! Biar tidak ada lagi hati yang gelap, senyum yang kecut, jantung yang hitam, darah yang kotor, dan semua yang dekat dengan Staithon yang terkutuk. Izinkan dan jadikan hamba hanya merasakan hati, senyum, dan darah yang bersih, segar, dan suci selama-lamanya di tanah suci-Mu dan dimana pun hamba berada….. Amin

 
By,
Insani Djohar / ID
March 30th, 2011