Kekecewaanku Padamu Azham
(By: Hasnul Djohar/HD)
Aku kecewa, aku merana, dan aku tidak percaya dengan kenyataan dan perkataanmu saat mengatakan tidak bisa padaku. Padahal aku sudah menggantungkan harapanku setinggi langit dan keyakinanku sedalam samudra padamu. Tetapi setelah aku menanti-nanti, mengharap-harap, dan akhirnya janji harimu datang, dengan entengnya kamu berkata: ‘Tidak, dan maaf tidak bisa hari ini, dan ditunda saja’. Sakit dan teramat sakit hatiku mendengar jawabanmu. Kamu tidak memikirkan betapa aku sudah menanti-nanti dan berharap banyak padamu. Tetapi kau tanpa dosa tidak menepati janjimu sendiri.
Namun, aku tidak bisa menyalahkanmu. Yang bisa aku salahkan adalah diriku sendiri. Yang selama ini terlalu percaya padamu, dan terlau bergantung padamu. Padahal kamu hanyalah manusia biasa yang sama dengan aku, tetapi mengapa aku berharap padamu, menanti dan meminta padamu? Toh kamu juga hanya insan biasa sama seperti aku.
Iya, itulah salah dan khilafku, yang mudah percaya dan berharap pada manusia-manusia sepertimu. Yang hanya bisa berbohong, bermulut manis, berparasit, yang hanya mau dan mampu menguntungkan dirimu sendiri ~ saja. Oh, jangan-jangan aku juga sepertimu, oh tidak, oh, jangan pernah!
Memang, selama ini aku salah dan keliru, yang lebih percaya dan mengandalkan kemampuanmu. Padahal kamu juga tidak bisa apa-apa, yang mungkin sama seperti aku. Aku seharusnya lebih berharap hanya pada-Mu ya Alloh. Mengapa aku tidak meminta kepadaMu saja selama ini? Mengapa aku harus cemas, khawatir jika sesuatu atau seseorang akan mengecewakanku? Padahal diri-Mu ya Alloh, Yang maha tahu dan Yang maha pengatur segala urusanku di dunia ini. Mengapa hamba kurang percaya dan kurang yakin dengan kekuatan-Mu selama ini. Malah sebaliknya, lebih berharap dan lebih meminta pada hamba-Mu yang eogis dan dhoif.
Padahal Engkaulah Yang maha segala-galanya, dan Engkaulah Zat yang tidak pernah membuat hamba kecewa. Karena dibalik kekecewaan satu pasti engkau ganti dengan kebahagiaan yang lain, yang mungkin saat ini belum hamba sadari. Ya Alloh kemana selama ini mata, telinga dan hati hamba? Sehingga hamba mau dan rela berputus asa, kecewa dan bahkan tersiksa dengan semua kekecewaan yang di buat oleh hamba-Mu yang lain dan bahkan oleh hamba sendiri.
Oh Robbi, hamba seharusnya tidak perlu tahu dan kenal dengan rasa kecewa, sakit, pilu, hampa, merana, dan sejenis penyakit jiwa yang hanya mampu nyaris membuat hamba-Mu 'gila'. Seharusnya hamba tidak menaruh harapan, dan bahkan penghambaan kepada makhluk-Mu yang dhoif lain. Hanya Engkaulah satu-satunya tempat hamba meminta dan bersujud. Bukan pada makhluk-Mu yang bernama insan manusia.
Astagfirullahal’aziim.
By,
Hasnul Djohar (HD)
May 15th 2011
Namun, aku tidak bisa menyalahkanmu. Yang bisa aku salahkan adalah diriku sendiri. Yang selama ini terlalu percaya padamu, dan terlau bergantung padamu. Padahal kamu hanyalah manusia biasa yang sama dengan aku, tetapi mengapa aku berharap padamu, menanti dan meminta padamu? Toh kamu juga hanya insan biasa sama seperti aku.
Iya, itulah salah dan khilafku, yang mudah percaya dan berharap pada manusia-manusia sepertimu. Yang hanya bisa berbohong, bermulut manis, berparasit, yang hanya mau dan mampu menguntungkan dirimu sendiri ~ saja. Oh, jangan-jangan aku juga sepertimu, oh tidak, oh, jangan pernah!
Memang, selama ini aku salah dan keliru, yang lebih percaya dan mengandalkan kemampuanmu. Padahal kamu juga tidak bisa apa-apa, yang mungkin sama seperti aku. Aku seharusnya lebih berharap hanya pada-Mu ya Alloh. Mengapa aku tidak meminta kepadaMu saja selama ini? Mengapa aku harus cemas, khawatir jika sesuatu atau seseorang akan mengecewakanku? Padahal diri-Mu ya Alloh, Yang maha tahu dan Yang maha pengatur segala urusanku di dunia ini. Mengapa hamba kurang percaya dan kurang yakin dengan kekuatan-Mu selama ini. Malah sebaliknya, lebih berharap dan lebih meminta pada hamba-Mu yang eogis dan dhoif.
Padahal Engkaulah Yang maha segala-galanya, dan Engkaulah Zat yang tidak pernah membuat hamba kecewa. Karena dibalik kekecewaan satu pasti engkau ganti dengan kebahagiaan yang lain, yang mungkin saat ini belum hamba sadari. Ya Alloh kemana selama ini mata, telinga dan hati hamba? Sehingga hamba mau dan rela berputus asa, kecewa dan bahkan tersiksa dengan semua kekecewaan yang di buat oleh hamba-Mu yang lain dan bahkan oleh hamba sendiri.
Oh Robbi, hamba seharusnya tidak perlu tahu dan kenal dengan rasa kecewa, sakit, pilu, hampa, merana, dan sejenis penyakit jiwa yang hanya mampu nyaris membuat hamba-Mu 'gila'. Seharusnya hamba tidak menaruh harapan, dan bahkan penghambaan kepada makhluk-Mu yang dhoif lain. Hanya Engkaulah satu-satunya tempat hamba meminta dan bersujud. Bukan pada makhluk-Mu yang bernama insan manusia.
Astagfirullahal’aziim.
By,
Hasnul Djohar (HD)
May 15th 2011
No comments:
Post a Comment